Bagaimana seharusnya Perusahaan memperlakukan Pegawainya?

Sun Tzu berkata:
“Seorang Jenderal yang melindungi para serdadunya seperti melindungi bayi-bayi akan menjadikan para serdadu itu tetap mengikutinya sampai ke lembah-lembah terdalam. Seorang Jenderal yang memperlakukan para serdadunya seperti anak-anak tersayangnya akan membuat mereka mau mati baginya.”

Saya teringat berbagai perusahaan dimana dulu saya pernah bekerja, salah satunya adalah Wings Surya, sebuah group perusahaan yang hebat, dimana loyalitas pegawai sangat luar biasa untuk ukuran jaman modern ini. Di perusahaan ini para pegawai begitu dihargai layaknya keluarga sendiri. Perhatian perusahaan dan pimpinan perusahaan terhadap karyawan benar benar tulus, kesulitan hidup dan masalah ekonomi rumahtangga karyawan benar benar menjadi perhatian pimpinan sekaligus bos kami saat itu. Luar biasa kinerja perusahaan tersebut, semua strategi, kebijakan perusahaan, apapun itu, selalu didukung oleh segenap karyawannya, menghasilkan daya yang luar biasa dalam menggempur market. Memang satu atau dua gesekan yang terjadi antar sesama karyawan tak terhindarkan, lumrah dan wajar untuk sebuah perusahaan besar. Akan tetapi begitu perusahaan mengeluarkan kebijakan untuk merealisasikan corporate strategi, maka berbagai pihak yang bertikai langsung membuang ego masing masing untuk memuluskan, mendukung sekaligus mensukseskan program dan goal perusahaan. Sebuah rahasia-kecil dari kesuksesan-Raksasa Group Perusahaan ini.

Sebaliknya di perusahaan yang lain, sebuah perusahaan yang menjual produk international terkenal, berlaku sebaliknya. Karyawan cuma dianggap sebagai salah satu asset perusahaan yang bisa dengan mudah digantikan.

Penghargaan yang sudah layak dan sepantasnya, seringkali tidak didapatkan oleh jajaran pekerja. Tak hanya itu, untuk ukuran sebuah perusahaan modern, praktek asal Bos senang, cari selamat sendiri dan saling lempar kesalahan jadi menu sehari-hari. Praktek seperti ini semakin berjalan dengan subur karena para pegawai berebut cari muka pada perusahaan, dimana kinerja perusahaan bukan yang utama, melainkan mencurahkan sebagian besar effort, pikiran dan tenaga untuk saling berebut kekuasaan internal, dimana pegawai yang “dekat” dengan sumber kekuasaan mendapatkan aliran uang dan fasilitas, serta memperlicin praktek lempar kesalahan pada sdm atau personal yang berprestasi. Akibatnya perusahaan memberikan penghargaan pada sdm yang bermain licin dan menjilat pada perusahaan, sebaliknya sdm yang berprestasi dan loyal pada perusahaan tidak diperhatikan, bahkan sering jadi sasaran lempar kesalahan. Akibat selanjutnya disaat perusahaan mulai mengalami kesulitan, SOP semakin diperketat. Dengan diperketatnya SOP ini, orang-orang yang tadinya sudah bekerja baik menjadi semakin tidak nyaman, apalagi semakin sering saja orang-orang yang tidak bekerja dengan baik melemparkan kesalahan pada orang lain untuk kambing hitam. Satu persatu karyawan yang memiliki hati untuk kemajuan perusahaan mulai sakit hati, karena sejatinya mereka orang-orang yang berkemampuan tinggi dan berprestasi baik, maka mereka tidak takut untuk mengundurkan diri dan mencari perusahaan atau sumber penghidupan yang lain. Sebaliknya, orang-orang yang tidak berkemampuan dan sibuk mencari keuntungan pribadi akan tetap bertahan dan semakin sering main lempar kesalahan dan menghasut sana-sini. SDM yang keluar tentu diganti SDM yang baru, SDM yang jelek tentunya mencari SDM yang memiliki kemampuan lebih rendah dari padanya untuk semakin mengamankan posisinya. Siklus ini berulang terus dengan diberlakukannya SOP dan peraturan baru yang semakin ketat. Sebagus apapun Corporate Strategy yang telah dirancang, akhirnya selalu berakhir di atas tumpukan kertas, karena SDM yang ada sibuk mencurahkan segenap daya upayanya untuk mencari keuntungan pribadi, dan bukan untuk kemajuan perusahaan.

Pada akhirnya berbagai strategi yang hebatpun tidak akan bermanfaat bila tidak ada komitmen dari manusia manusia untuk merealisasikannya. Orang-orang yang tepat dengan sikap yang tepat pula yang mampu dan sekaligus harus melaksanakan semua strategi tersebut. Secemerlang apapun strategi yang dirancang oleh perusahaan, seyogyanya strategi-strategi tersebut tidak sekedar menjadi kata-kata , gambar dan grafik diatas kertas.

Perusahaan yang hebat tahu bahwa SDM yang baik adalah asset terbaik perusahaan, dimana semua strategy yang hebat, inovasi demi inovasi baru dilahirkan oleh orang orang ini. Sebaliknya, Konsep dan tatanan kerja yang sudah ada memang mungkin dapat diteruskan oleh para penggantinya, SOP dapat diperketat, akan tetapi tanpa SDM yang loyal semua itu akan mati semati hati karyawan yang bekerja pada perusahaan tersebut. Akibat selanjutnya…tidak akan ada konsep, strategi dan eksekusi yang baik, semua akan berjalan karena diharuskan untuk berjalan saja.

So bagaimana perusahaan anda memperlakukan para pegawainya?

Salam hangat S-I-C

About Wiyanto Sudjono

SIC Integrity Visioner Strategic - Innovation - Creative Integrity Visioner

Posted on December 8, 2013, in Human Resource Management and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 4 Comments.

  1. mantabb surantab ulasannya.
    memang pada kenyataannya hny segelintir perusahaan yg bs menerapkan spt ini,kbanyakan tdk peduli pd karyawan yg memiliki motivasi,loyalitas&ingin memajukan perusahaan ,yg ada hny menekan dan menekan trs,yg dipikirkan hny cost ratio tnp bs memfaatkan SDM yg ada.
    yg disukai hny penjilat&org yg cr aman sndr.

  2. apakah bapak juga pernah menganalisa untuk bos generasi kyang kedua… apakah sama dengan generasi yang pertama….seringkali membuat kita lebih tidak nyaman dalam bekerja. Trims.

    • Pada umumnya memang begitu, walaupun ada juga sedikit yang sebaliknya. Umumnya terjadi karena perbedaan mindset, krn dibesarkan dan tumbuh dalam situasi yang berbeda, kondisi dan tantangan yang berbeda dan tentu saja tingkat kematangan kebijaksanaan dalam pengambilan keputusan yang menyangkut masalah dengan hati nurani dan social humanity dalam kebijakan perusahaan.

  3. Hahaha.. Artikel ini menjawab alasan ane sering loncat2 dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: